Minggu, 11 Maret 2012

Meningkatkan Aqidah


Diantara para sahabat Rasulullah SAW, adalah Ali bin Abi Thalib, beliau dikenal sebagai sahabat muda yang cerdas, pemberani dan sholeh. Sejak usia enam tahun ia dipelihara, dididik, dan ditempa di rumah yang mulia Rasulullah.
Ketika Rasulullah wafat, Ali bin Abi Thalib berusia 33 tahun. Seluruh masa remajanya dipergunakan untuk mempelajari, mengamalkan dan memperjuangkan Islam. Dari Nabi SAW ia mereguk ilmu Islam yang paling mendalam, sehingga konon Umar bin Khattab tidak berani mengambil keputusan dalam satu majelis kalau dalam majelis tersebut ada Ali bin Abi Thalib.
Karena sering tidur di lantai masjid yang berdebu, Ali digelari Rasulullah SAW sebagai Abu Turab (bapak debu). Karena keberaniannya di medan perang, orang bersyair baginya, ”Tidak ada pemuda seperti Ali, tiada pedang seperti Dzul Fiqari.”
Karena selalu memelihara kesucian dirinya dan memelihara wajahnya dari memandang hal-hal yang aib, kita selaku umat Islam setiap disebut nama Ali bin Abi Thalib selalu diiringi dengan ucapan:
Karomallaahu Wajhahu” (Semoga ALLAH memuliakan wajahnya).
Karena kedalamannya dalam ke-Tuhanan (Ma’arif Ilahiyah), Ali disebut sebagai Imam para ‘Arifin setelah Rasulullah.
Ada baiknya kita semua merenungkan beberapa kalimat ucapan Ali bin Abi Thalib, beliau berkata:
“Permulaan agama ialah mengenal DIA (Ma’rifah), kesempurnaan mengenal DIA ialah membenarkan-NYA (Tashdiq), kesempurnaan Tashdiq ialah meng-esakan-NYA (Tauhid), dan kesempurnaan Tauhid ialah Ikhlas bagi-NYA.”
Saya ingin menggunakan ucapan Ali tersebut, untuk mengukur sejauh mana kekuatan Aqidah Islamiyah kita? Sampai dimana ketangguhan ke-Imanan kita? Mampukah kita Memaulidkan atau mengembalikan diri kita, seperti pengkaderan Rasul terhadap para sahabat-sahabatnya yang mulia?
Yang paling awal dari agama ialah mengenal ALLAH (Ma’rifah)
Yaitu; Keyakinan bahwa ada Pencipta alam semesta, keyakinan bahwa di luar alam nyata ini ada Al-Khaliq. “Tidak ada ciptaan tanpa adanya semacam Pencipta Spiritual.” Harus ada Master Designer, harus ada Sang Pencipta, yaitu ALLAH SWT. al-Quran berkata,
“Bila ditanya kepada mereka, ‘Siapa yang menciptakan langit dan bumi, serta menggerakkan matahari dan bulan.’ Mereka berkata, ‘ALLAH.’ Tetapi, mengapa mereka berpaling dari kebenaran?” (Q.S. al-Ankabuut: 61)
Lalu mengapa banyak diantara kita yang berpaling dari kebenaran? Kita percaya kepada ALLAH, tetapi kita enggan dan terlalu malas dalam mengabdi dan menyembah-NYA. Karenanya, banyak diantara saudara-saudara kita yang mengaku beragama Islam, namun hampir tidak pernah melangkahkan kaki ke Masjid. Tetapi nanti, kalau suatu saat kita ditimpa musibah, barulah teringat akan ALLAH. Ketika semua usaha (ikhtiyar) telah habis, ketika semua kekuatan sudah tidak berdaya, tersadarlah kita, merintihlah kita di hadapan-NYA, dan memohon pertolongan. Atau nanti ketika kita terlanjur dan ketagihan melakukan dosa besar, lalu jiwa kita gelisah, tidak tentram, barulah kita datang bersimpuh dan beristighfar kepada ALLAH.
Kesempurnaan mengenal DIA ialah membenarkan-NYA (Tashdiq)
Pembenaran atau At-Tashdiq dilakukan dengan amal sholih. Yakin saja bahwa ALLAH itu ada, tidak bermanfaat apa-apa. Keyakinan harus dibuktikan dengan amal sholih. At-Tashdiq adalah tahap kedua dalam perjalanan aqidah. Karena itulah dalam al-Quran, kata Alladzina Amanu sering diiringi dengan Wa ‘amilush Sholihaat. Percaya kepada Rasul harus disusul dengan usaha untuk mengikuti petunjuk dan contoh yang diberikannya. Percaya kepada Kitab ALLAH harus dinyatakan dengan menerapkan isi Kitab Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan. Percaya kepada Hari Akhirat, harus ditampakkan dengan persiapan amal-amal sholih yang dapat dijadikan sebagai sumber penyelamat.
Sempurnanya Tashdiq ialah Tauhid
Tauhid adalah tahap ketiga. Tauhid berarti menyakini bahwa kita hanya menyembah dan meminta kepada ALLAH. Banyak diantara kita yang beribadah menyembah ALLAH, tetapi dengan harapan amal kita dipuji oleh manusia. Ini berarti kita mempersekutukan ALLAH dengan manusia. Inilah Syirkul Ashghar, syirik kecil atau syirik yang tersembunyi, menurut Rasulullah.
Sempurnanya Tauhid ialah Ikhlas
Ikhlas adalah tahap keempat. Kata Sayyid Sabiq, “Ikhlas ialah menunjukkan semua ucapan dan perbuatan serta jihad hanya untuk ALLAH saja, hanya untuk memperoleh keridhaan-NYA.”
Pada tahap ini, kita sebagai seorang Muslim tidak akan tergetar dengan bujukan kemewahan baik dalam bentuk rupiah maupun dollar, kita tidak akan terpukau oleh kemegahan kekuasaan yang banyak membuat kita silau, kita tidak lagi tertarik pada pujian dan tidak akan mempan dengan cercaan. Kalaupun ada kebanggaan yang dicari, kebanggaan itu hanyalah keridhaan ILAHI. Dan bila ada kecintaan yang dirindukan, adalah kecintaan yang didapat dari Rahman dan Rahim-Nya ALLAH. Serta bila ketentraman hati yang dikejar ialah ketentraman yang ditemui lewat ketaatan beribadah dan beristighfar.
Maka untuk mengukur, apakah kita seorang Mukhlisin yang aqidahnya sudah sampai pada puncak yang tinggi, mari kita bercermin pada beberapa sahabat Rasul yang ke-Islamannya sudah terjamin. Marilah kita renungkan bagaimana sikap para sahabat!
Menjelang perang Uhud, Abdullah bin Jahsy berkata kepada Sa’ad bin Abi Waqqas, ”Wahai Sa’ad! Mari kita berdoa bersama, marilah masing-masing kita bermohon kepada ALLAH sesuai dengan keinginan, dan yang lain mengaminkan. Dengan cara ini mudah-mudahan doa kita diijabah oleh Tuhan.” Sa’ad setuju dan keduanya pergi ke sebuah sudut untuk berdoa. Mula-mula Sa’ad berdoa: “Ya ALLAH pada pertemuan besok, berilah saya musuh yang sangat kuat dan tangguh, biar dia menyerang aku dengan segenap kekuatannya, dan izinkan aku untuk menolaknya dengan seluruh kekuatanku. Kemudian Ya ALLAH, perkenankan aku mengambil miliknya sebagai Ghanimah,” doa Sa’ad diaminkan oleh Abdullah bin Jahsy. Sekarang, giliran Abdullah bin Jahsy, dengan doa: “Ya ILAHI! Karuniakan aku besok seorang musuh yang tangkas berani, supaya aku perangi dia di jalan Engkau, dan dia perangi aku, dia potong hidung dan telingaku. Apabila di akhirat nanti aku menghadap Engkau, lantas Engkau bertanya, ‘Lantaran apakah hidung dan telingamu terpotong?’ aku akan menjawab: ‘Karena membela agama-MU”. Dalam pertempuran Uhud, gugurlah Abdullah. Seperti doanya, hidung dan telinganya terpotong. Beliau dikuburkan bersama Hamzah AS pada liang lahat yang sama.
Peristiwa ini tidak dapat dijelaskan dengan akal. Inilah contoh puncak Tauhid yang seharusnya bagi kita sebagai seorang Muslim, yaitu hanya mencari kebanggaan di hadapan ALLAH. Marilah kita renungkan sebentar, kebanggaan apa yang dapat kita sampaikan kepaada ILAHI, bila suatu saat ALLAH bertanya kepada kita pada hari kiamat kelak? Kita tidak perlu kehilangan hidung dan telinga, tetapi maukah kita kehilangan jabatan basah, bila jabatan itu menjauhkan kita dari Rahman dan kasih sayang ALLAH? Maukah kita kehilangan untung milyaran rupiah bila keuntungan itu diperoleh dengan jalan yang dimurkai ALLAH? Maukah kita kehilangan orang-orang yang kita cintai, bila mereka menghalangi kita beramal sholih mendekatkan diri kepada ILAHI? Bila jawaban kita YA, berarti kita telah mencapai puncak Tauhid, yaitu Ikhlas kepada ALLAH. Bila TIDAK, marilah kita kenang salah seorang sahabat lagi:
Peristiwa kali ini terjadi ketika umaat Islam masih dalam keadaan lemah. Keluarga Yasir diseret Abu Jahal ke sebuah tempat penyiksaan. Yasir, sang suami, dibunuh dengan pedang. Anaknya, Ammar, dibenamkan berkali-kali dengan pukulan di luar batas kemanusiaan. Dan si ibu, Sumayah, mengalami nasib yang sama. Padahal Sumayah adalah seorang wanita yang telah tua renta.
Tetapi ketika berita penderitaan wanita ini sampai kepada Rasulullah SAW, Rasulullah mengutus orang untuk memberitahu Sumayah, bahwa beliau boleh mengucapkan kata-kata kufur, asal hatinya masih tetap beriman. Tetapi apa jawab Sumayah yang diteriakkannya di muka Abu Jahal yang siap menusukkan tombaknya?
“Sampaikan salam Sumayah kepada Rasulullah. Sesungguhnya Sumayah yang telah disucikan ALLAH hatinya, tidak akan mengotori lidahnya dengan kata-kata kufur”.
Ucapan ini dibalas dengan tusukan tombak ke badannya, dan Perawi Hadits mengatakan: “Dia mati karena kehabisan darah, dan jadilah ia wanita pertama yang Syahid dalam Islam”.
Peristiwa ini pun tidak perlu didiskusikan dengan akal. Inilah puncak Tauhid, ketika kita sebagai seorang Muslim rela kehilangan nyawa, daripada kehormatan dan ke-Tauhidan kita ternoda. Marilah kita merenung sebentar; Pernahkah kita memilih rugi material daripada tubuh kita kemasukan barang-barang yang tidak halal? Pernahkah kita mengembalikan hak orang lain daripada hidup kita dikotori dengan kemaksiatan yang sudah tidak mampu lagi dicuci dengan berbagai deterjen? Dan pernahkah kita memilih berwudhu sebagai sebagai alat penyuci, daripada melampiaskan amarah kita terhadap saudara-saudara kita yang kita benci?
Sebagai penutup, ingatlah ungkapan orang-orang tua kita yang menyatakan bahawa: “Gajah mati meninggalkan Gading, Harimau mati meninggalkan Belang, dan Manusia mati meninggalkan Nama”.
Sekarang, kalau kita coba bertanya-tanya: Nama baik apa yang telah kita ukir untuk kita banggakan di hadapan ALLAH?, bila suatu saat malaikat maut menjemput kita tanpa pemberitahuan?, karenanya renungkanlah secara ber-ulang-ulang, nama baik apa yang bakal kita tinggalkan, bila suatu saat maut segera menghadang? Dan jawablah dengan hati Nurani yang super Cemerlang! Serta Perbekalan apa yang telah kita persiapkan, untuk kita bawa pulang kelak?
Semoga kita dapat menjadi muslim yang ikhlas kepada sang Khaliq. Billaahi fii sabiilil haq, fastabiul khairaat.
Sekian dan semoga bermanfaat...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar