Kamis, 16 Agustus 2012

Melestarikan Nilai-Nilai Shaum

Puluhan tahun yang lalu, puluhan rektor universitas di Amerika berkumpul dalam suatu konferensi di Michigan University. Mereka tersentak ketika Dr. Benjamin E. Mays, Rektor Morehouse College, Georgia, berkata; "Kita memiliki orang-orang terdidik jauh lebih banyak sepanjang sejarah. Kita juga memiliki lulusan-lulusan perguruan tinggi yang lebih banyak. Namun, kemanusiaan kita adalah kemanusiaan yang berpenyakit".
Oleh sebab itu sering kita temui, semakin banyak orang yang pintar, semakin sulit mencari orang jujur, manusia yang bernalar tinggi tetapi berhati kering, sarjana yang mampu merekayasa teknik tetapi masih merayap dalam etik. Ilmunya menggapai angkasa tetapi hatinya diperbudak oleh kerakusan, iri hati, kebencian, kegersangan emosi dan penipuan; ketrampilannya mampu menggerakkan gunung-gunung tetapi tidak dapat mengendalikan diri sendiri. Karenanya untuk mencoba mengembalikan keutuhan kemanusiaan dalam rangka "amar makruf", saya sampaikan postingan ini.
Untuk memperoleh manusia yang utuh diperlukan pendidikan. Sebagaimana sekolah mendidik manusia yang intelek, maka diperlukan juga madrasah rohaniah untuk mendidik manusia yang beretik, sebab kita tidak bisa meraih kedamaian tanpa kedermawanan, kita tidak bisa mendapat keteraturan sosial tanpa orang-orang suci atau taqwa. Dan orang-orang suci atau taqwa tersebut akan lahir dari pelaksanaan ibadah shaum. Hal ini sesuai dengan firman ALLAH SWT dalam surat al-Baqarah ayat 183:
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa"
Dalam ibadah shaum paling tidak ada tiga nilai yang harus dilestarikan agar kemanusiaan kita menjadi kemanusiaan yang utuh di sisi ALLAH SWT.
Adapun ketiga nilai tersebut adalah:
Pertama - Ikhlas
Ikhlas berarti beramal semata-mata karena mengharap keridhaan ALLAH. Shaum atau puasa adalah latihan ikhlas, sebab shaum tidak kelihatan orang. Kelelahan fisik, lesu, mata yang cekung, bibir yang kering bukan menunjukkan shaum saja. Shaum hanya bisa dijalankan dengan ikhlas. Karena itu orang yang melakukan shaum tidak karena menghrap pujian manusia, tidak karena mendambakan kekayaan, tidak pula ditujukan untuk mempertahankan kedudukan. Dalam shaum kita dididik bahwa keridhaan ALLAH lebih besar dari dunia dan segala isinya. Dan ALLAH SWT dalam surat at-Taubah ayat 72 menegaskan:
"ALLAH menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. dan keridhaan ALLAH adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar."
Ikhlas menunjukkan sucinya niat, bersihnya tujuan amal, dan lepasnya kita dari perbudakan dunia. Karenanya, bila shaum kita berhasil, kita tidak akan membabi buta mengejar kekayaan, bila kekayaan itu mengundang murka ALLAH, kita tidak akan mempertahankan kekuasaan, bila kekuasaan itu, menghalangi kita mencapai ridha ALLAH, kita tidak lagi bersikeras mempertahankan harga diri, bila harga diri itu malah menjauhkan kita dari rahman dan rahimnya ALLAH. Shaum menegaskan kepada kita bahwa "wa ridhwanum minallahi akbar" (dan keridhaan ALLAH lebih besar dari segalanya).
Kedua - Pembersihan Diri
Dalam shaum kita sebagai seorang muslim dididik untuk menghindari segala perbuatan yang tercela, dengan mengendalikan lidah supaya tidak mengeluarkan kata keji, kata tajam yang menyinggung dan menggunjing orang lain. Bahkan bila kita dicemooh oleh orang lain sekalipun, Rasulullah SAW. Menyuruh kita menjawab; "Inni Shaim" (saya sedang shaum). Shaum juga mengendalikan telinga, pandangan, seluruh anggota badan bahkan getaran hati.
"Betapa banyak orang yang bershaum yang tidak mendapat apa-apa dari shaumnya selain lapar dan dahaga." (HR. Bukhari).
Begitulah peringatan Rasul. Bahwa taqwa tidak akan dapat dicapai tanpa proses pembersihan diri, cahaya ruhaniah tidak akan mampu menembus hati yang dipenuhi dosa dan maksiat, Nur Rabbani tidak akan terpantul dari jiwa yang kotor.
Ketiga - Ihsan dan Ibadah
Dalam Shaum kita diajar untuk membiasakan berbuat baik. Berbuat baik pada makhluk ALLAH dan berbuat baik dalam mengabdi dan menyembah. Dibiasakan memperbanyak shodaqoh, menolong orang lain, meringankan beban berat serta menggembirakan yang susah. Pada saat yang sama digerakkan bibir dan lidah untuk berzikir dan membaca kalamullah, ditegakkan kaki untuk shalat malam, dipenuhi waktu sahur dengan beristighfar.
Mata sayu karena kurang tidur, bibir kering karena menahan lapar dan dahaga. Tubuh lemah karena kehabisan energi, tetapi pandangan kalbu cemerlang dengan sinar Rabbani.
Andaikan ketiga nilai shaum ini diterapkan dalam kehidupan, insya ALLAH kita tidak akan temui umat Islam yang cacat kemanusiaan. Sebab ketiga nilai ini akan sanggup memberikan keharuan imani pada kegersangan intelektual, timbangan keadilan pada kepongahan kekuasaan, kelembutan kasih sayang pada kekasaran kekayaan, dan keutuhan insani pada kemanusiaan yang cacat rohani.
Demikian semoga bermanfaat, selamat menjalankan ibadah shaum.
Billaahi Fii Sabiilil Haq, Fastabiqul Khairaat...
Wassalaamu'alaikum wr. wb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar