Senin, 06 Agustus 2012

Problematika Hadits

Berawal dari rasa prihatin yang sangat dalam atas fenomena yang ada di dunia maya, dimana banyak ditemukan para netter non muslim yang sering mengutip hadits guna mengkritisi Islam. Menurut saya pribadi, sebenarnya hal ini sangatlah wajar, karena memang jika dibandingkan dengan al-Quran, hadits jauh lebih banyak yang isinya membuka peluang untuk dikritisi. Hanya saja sayangnya sebagian besar dari tindakan pengkutipan hadits dilakukan secara keliru karena memang didasari dari cara pandang yang keliru mengenai hadits.
Untuk menghindari dan meminimalisasikan kekeliruan tersebut di masa datang dan sebagai bahan informasi bagi para netter non muslim yang tertarik mendalami tentang hadits, maka saya terbitkan posting yang sangat sederhana ini.
Perlu diketahui dan saya tekankan bahwasannya ilmu yang saya miliki masihlah jauh dari kata cukup dan memadai untuk memberi penjelasan tentang hadits, namun didasari oleh dorongan guna meluruskan segala tuduhan dan kekeliruan tentang Rosululloh Muhammad SAW dan ajaran Islam yang beliau bawa maka tidak ada pilihan lain bagi saya kecuali memberanikan diri untuk membuat postingan ini.
Oleh karena itu, jikalau ada kesalahan dan kekurangan, saya harap para sobat muslim sudi melakukan koreksi.
Definisi Hadits
Banyak netter non muslim yang memiliki anggapan yang keliru, mereka beranggapan kalau dalam Islam hadits dianggap sebagai kata-kata atau firman Tuhan, yang sebagian lainnya mungkin agak lebih banyak membaca mengira bahwa hadits itu adalah kata-kata nabi Muhammad SAW (jika pandangan yang ini, tidak sedikit muslim yang berpandangan demikian).
Namun sebenarnya Hadits adalah kesaksian tentang perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dibuat oleh para sahabat yang berada di tempat kejadian ketika perkataan atau perbuatan itu dibuat oleh beliau.
Hadits Bukan Kitab Suci Umat Islam
Karena kesaksian tersebut dibuat oleh manusia, dan tidak ada jaminan dari ALLAH bahwa mereka itu bebas dari kesalahan, maka hadits tidak luput dari kesalahan, namun kesalahan tersebut terjadi dalam proses periwayatan, bukan kesalahan pada perkataan dan perbuatan Rosululloh (semua rosul adalah maksum, artinya kalau berbuat salah langsung ditegur oleh ALLAH dan teguran itu disampaikan kepada umat sehingga ada keterangan tentangnya).
Maka sikap yang umum diambil para ulama adalah tidak menganggap semua hadits itu pasti benar tapi juga tidak menganggap semua hadits itu pasti salah (mereka yg menganggap semua hadits pasti salah disebut Inkarussunnah).
Periwayatan Hadits
Semasa hidup Rosululloh, beliau dengan tegas membedakan antara ayat al-Quran dengan hadits. Beliau memerintahkan pencatatan ayat-ayat al-Quran, bahkan menugaskan sejumlah sahabat utk melakukannya. Namun beliau melarang pencatatan hadits untuk menghindari campur-aduk dengan ayat-ayat al-Quran.
Karena adanya larangan Rosululloh tersebut, pada mulanya hadits hanya sebatas dihapal dan diteruskan kepada generasi berikutnya. Mereka yg meneruskan hapalan hadits ke generasi penghapal berikutnya disebut periwayat hadits dan informasi periwayatan hadits dari sejak orang yg menyaksikan langsung hingga sampai ke tangan perawi hadits disebut sanad.
Setelah lebih 100 tahun sejak wafatnya Rosululloh, barulah upaya untuk mengumpulkan dan mencatat hadits dilakukan oleh perawi hadits. Ada tiga jenis cara pengumpulan dan pencatatan yang dilakukan oleh perawi hadits, yaitu
1.
Sebatas mengumpulkan dan mencatat apapun hadits yg mereka temukan tanpa melakukan pemilahan. Tujuannya adalah untuk menyediakan "bahan baku" bagi para perawi hadits lain yg ingin membuat kumpulan hadits berdasarkan kriteria tertentu.
2.
Mengumpulkan dan mencatat semua hadits yang mereka temukan setelah itu untuk setiap hadits mereka beri catatan terkait sanad-nya
3.
Mengumpulkan, menyeleksi berdasarkan kekuatan sanad-nya, lalu mengumpulkan hadits-hadits yg mereka anggap shahih ke dalam sebuah kitab hadits.
Klasifikasi Hadits
Berdasarkan kekuatan sanad-nya, hadits dapat digolongkan menjadi:
1. Hadits Shahih
Hadits yang sanad-nya oleh perawi hadits dianggap bersambung hingga ke orang yg menyaksikan langsung perkataan atau perbuatan Nabi yang diceritakan dalam hadits tersebut, dan di dalam sanad tersebut tidak terdapat seorang atau lebih periwayat hadits yg kompetensi, kepribadian dan itikad-nya meragukan.
Menurut Ibnu Sholah, hadits shahih ialah hadits yang bersambung sanadnya. Ia diriwayatkan oleh orang yang adil lagi dhobit (kuat ingatannya) hingga akhirnya tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih) dan tidak mu'allal (tidak cacat). Jadi hadits Shahih itu memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :
- Kandungan isinya tidak bertentangan dengan al-Quran
- Harus bersambung sanadnya
- Diriwayatkan oleh orang/perawi yang adil
- Diriwayatkan oleh orang yang dhobit (kuat ingatannya)
- Tidak syadz (tidak bertentangan dengan hadits lain yang lebih shahih)
- Tidak cacat walaupun tersembunyi.
2. Hadits Dhoif
Hadits yg sanad-nya lemah atau terputus, dengan kata lain hadits yang tidak bersambung sanadnya dan diriwayatkan oleh orang yang tidak adil dan tidak dhobit, syadz dan cacat.
3. Hadits Maudhu
Hadits yang di dalam sanad-nya terdapat seorang atau lebih periwayat yg kompetensi, kepribadian atau itikad-nya memungkinkan ia melakukan pemalsuan (baik sengaja ataupun tidak) atau dalam hadits tersebut dalam sanadnya terdapat perawi yang berdusta atau dituduh dusta.
Jadi hadits maudhu adalah hasil karangannya sendiri bahkan tidak pantas disebut hadits.
Namun dalam penentuan kategori di atas, para perawi hadits tidak selalu sepaham sehingga ada istilah mutafaq alaih yang artinya ke-shahih-annya disepakati oleh banyak perawi hadits (khususnya Bukhari dan Muslim), lalu ada penyebutan hadits riwayat Bukhari, atau hadits riwayat Muslim, atau Ahmad, atau Tirmidzi atau perawi hadits lainnya yg menunjukkan bahwa hadits tersebut dianggap shahih oleh perawi hadits yg namanya disebutkan.
Berdasarkan jumlah saksi atau periwayat pertama, hadits dapat digolongkan menjadi:
1. Hadits Mutawwatir
saksinya banyak, dan dari setiap saksi tercipta sanad yang bersambung hingga kepada Perawi. Hadits mutawwatir pasti dianggap shahih oleh perawi yang meriwayatkannya, dan Hadits Mutawwatir Mutafaq Alaih adalah hadits yg paling kuat tingkat keshahihannya menurut anggapan kebanyakan ulama.
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar suatu hadits bisa dikatakan sebagai hadits Mutawatir:
- Isi hadits itu harus hal-hal yang dapat dicapai oleh panca indera.
- Orang yang menceritakannya harus sejumlah orang yang menurut ada kebiasaan, tidak mungkin berdusta. Sifatnya Qath'iy.
- Pemberita-pemberita itu terdapat pada semua generasi yang sama.
2. Hadits Hasan
Saksinya sedikit (satu atau dua orang), namun banyak sumbernya atau jalannya dan dikalangan perawinya tidak ada yang disangka dusta dan tidak syadz.
Sebenarnya masih ada beberapa pembagian hadits yg lebih rinci, sobat dapat melihatnya di posting sebelumnya.
Isi Hadits
Hadits berisi beragam perkataan dan perbuatan Rosululloh yg dapat dikategorikan menjadi:
1. Sunnah, artinya ajaran atau teladan yg harus diikuti
2. Informasi tentang diri rosululloh, misalnya kepribadian beliau, nama-nama istri beliau, jumlah kuda yang beliau miliki, dan sejenisnya
3. Penjelasan Rosululloh tentang makna ayat al-Quran
4. Kisah kehidupan Rosululloh
5. Perbuatan atau kebiasaan Rosululloh yg terkait dgn adat istiadat dari masyarakat dimana beliau berada
6. Keputusan-keputusan Rosululloh terkait permasalahan yang beliau hadapi
Para Perawi Hadits
Yang terkenal dan banyak diikuti oleh muslim adalah Bukhari, Muslim, Ahmad bin Hanbal, Tirmidzi, Abu Daud, Nasa'i, Ibnu Majah, Abu Hanifah, Malik bin Anas, Syafii, Nawawi, dan sebagainya.
Sekian dan semoga bermanfaat. Wassalaam
--- Dari berbagai sumber ---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar