Sabtu, 11 Agustus 2012

(Renungan) Kasih Sayang Ibu Tak Terlihat

Suatu sore, Maria bertengkar hebat dengan ibunya. Karena sangat marah, Maria langsung meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat melangkah di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Saat menyusuri sebuah gang, ia melewati sebuah kedai mi rebus dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk mi rebus, namun ia tidak punya uang.
Pemilik kedai melihat Maria berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata,
"Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk mi?"
"Ya, bu, tetapi aku tidak membawa uang", jawab Maria dengan malu-malu.
"Tidak apa-apa, saya akan memberikannya gratis.. Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu". jawab si pemilik kedai.
Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk mi. Maria segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.
"Ada apa nona?" tanya si pemilik kedai.
"Tidak apa-apa, bu, saya hanya terharu", jawab Maria sambil mengeringkan air matanya. "Saya sedih, seorang yang baru saya kenal pun memberi saya semangkuk mi. Tetapi, ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, malah mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan pernah kembali lagi ke rumah. Sedangkan Anda, seorang yang baru saja saya kenal, begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri". katanya kepada pemilik kedai.
Setelah mendengar perkataan Maria, pemilik kedai itu menarik nafas panjang dan berkata, "Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk mi rebus seharga tiga ribu rupiah dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak mi rebus dan nasi untukmu sejak kau kecil hingga saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya"
Maria, terhenyak mendengar hal tersebut. "Oh Tuhan.. mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk semangkuk mi rebus dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun sejak aku kecil, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya."
Maria, segera menghabiskan makanannya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Saat bertemu dengan Maria, kalimat yang keluar dari sang ibu adalah "Maria.. kau sudah pulang nak, cepatlah masuk, ibu sudah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, nanti makanannya keburu dingin jika tidak kamu makan sekarang".
Maria tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis di hadapan sang ibu.
♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥
Tak jarang, kita sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita seringkali lupa untuk berterima kasih kepada mereka.
Seringkali kita menganggap pengorbanan mereka merupakan suatu proses alami yang biasa saja; namun sesungguhnya kasih sayang dan kepedulian orang tua kita adalah hadiah paling berharga yang diberikan kepada kita sejak kita lahir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar