Sabtu, 12 Desember 2015

KH ABBAS DJAMIL BUNTET

=========================================
Memadukan Kitab Kuning dan Ilmu Kanuragan Buntet hingga saat ini di kenal sebagai pasantren yang sangat prestisius hingga sekarang, tidak hanya dari segi mutu pendidikan yang disajikan, sebagai pasantren salaf yang mengajarkan berbagai kitab kuning bertaraf babon, tetapi pasantren ini juga memiliki peran-peran sosial politik yang diambil oleh para pemimpinnya. Kualitas pengajian dan kharisma seorang kiai merupakan daya tarik utama dalam system pendidikan pasantren Salaf. Dan ini tetap dipertahankan dalam sistem pendidikan pasantren Buntet sebabagi sosok pasantren salaf yang tidak pernah kehilangan pesona dan peran dalam dunia modern.

Tersebutlah saat ini peran sosial politik yang diambil Kiai Abdullah Abbas, selalu menjadi rujukan para pemimpin nasional. Tidak hanya karena pengikutnya banyak, tetapi memang nasehat dan pandangannya sangat berisi. Semuanya itu tidak diperoleh begitu saja, melainkan hasil pergumulan panjang, yang penuh pengalaman dan pelajaran, sehingga membuat para tokoh matang dalam kancah perjuangan. Bukan sekadar tokoh yang berperan karena mengandalkan popularitas keluarga atau keturunannya. Semuanya itu tidak terlepas dari peran para pendahulu pasantren Buntet ayah Kiai Abdullah Abbas sendiri yaitu Kiai Abbas, seorang ulama besar yang mampu memadukan kitab kuning dan ilmu kanuragan sekaligus, sebagai sarana perjuangan membela umat.

LATAR BELAKANG KELUARGA

Kiai Abas adalah putra sulung KH Abdul Djamil yang dilahirkan pada hari Jumat 24 Zulhijah 1300 H atau 1879 M di desa Pekalangan, Cirebon. Sedangkan KH Abdul Djamil adalah putra dari KH Muta'ad yang tak lain adalah menantu pendiri Pasantren Buntet, yakni mbah Muqayyim salah seorang mufti di Kesultanan Cirebon. Ia menjadi Mufti pada masa pemerintahan Sultan Khairuddin I, Sultan Kanoman yang mempunyai anak Sultan Khairuddin II yang lahir pada tahun 1777. Tetapi jabatan terhormat itu kemudian ditinggalkan semata-mata karena dorongan dan rasa tanggungjawab terhadap agama dan bangsa. Selain itu juga karena sikap dasar politik mbah Muqayyim yang non-cooperative terhadap penjajah Belanda – karena penjajah secara politik saat itu sudah "menguasai" kesultanan Cirebon.

Setelah meninggalkan Kesultanan Cirebon, maka didirikanlah lembaga pendidikan pasantren tahun 1750 di Dusun Kedung malang, desa Buntet, Cirebon yang petilasannya dapat dilihat sampai sekarang berupa pemakaman para santrinya. Untuk menghindari desakan penjajah Belanda, ia selalu berpindah-pindah. Sebelum berada di Blok Buntet, (desa Martapada Kulon) seperti sekarang ini, ia berada di sebuah daerah yang disebut Gajah Ngambung. Disebut begitu, konon, karena mbah Muqayyim dikabarkan mempunyai gajah putih.

Setelah itu juga masih terus berpindah tempat ke Persawahan Lemah Agung (masih daerah Cirebon), lantas ke daerah yang di sebut Tuk Karangsuwung. Bahkan, lantara begitu gencarnya desakan penjajah Belanda (karena sikap politik yang non-cooperative), mbah Muqayyim sampai "hijrah" ke daerah Beji, Pemalang, Jawa Tengah, sebelum kembali ke daerah Buntet, Cirebon. Hal itu dilakukan karena hampir setiap hari tentara penjajah Belanda setiap hari melakukan patroli ke daerah pasantren. Sehingga suasana pasantren, mencekam, tapi para santri tetap giat belajar sambil terus bergerilya, bila malam hari tiba.

Semuanya itu dijalani dengan tabah dan penuh harapan, sebab mbah Qoyyim selalu mendampingi mereka. Sementara bimbingan mbah Qoyyim selalu meraka harapkan sebab kiai itu di kenal sebagai tokoh yang ahli tirakat (riyadlah) untuk kewaspadaan dan keselamatan bersama. Ia pernah berpuasa tanpa putus selama 12 tahun. mbah Muqayyim membagi niat puasanya yang dua belas tahun itu dalam empat bagian. Tiga tahun pertama, ditunjukan untuk keselamatan Buntet Pasantren. Tiga tahun kedua untuk keselamatan anak cucuknya. Tiga tahun yang ketiga untuk para santri dan pengikutnya yang setia. Sedang tiga tahun yang keempat untuk keselamatan dirinya. Saat itu mbah Muqayyimlah peletak awal Pasantren Buntet, sudah berpikir besar untuk keselamatan umat Islam dan bangsa. Karena itu pasantren rintisannya hingga saat ini masih mewarisi semangat tersebut. Sejak zaman pergerakan kemerdekaan, dan ketika para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama, pasantren ini menjadi salah satu basis kekuatan NU di Jawa Barat.

MASA PEMBENTUKAN

Dengan demikian pada dasarnya Kiai Abbas adalah dari keluarga alim karena itu pertama ia belajar pada ayahnya sendiri (KH Abdul Djamil). Setelah menguasai dasar-dasar ilmu agama baru pindah ke pasantren Sukanasari, Plered, Cirebon di bawah pimpinan Kiai Nasuha. Setelah itu, masih di daerah Jawa Barat, ia pindah lagi ke sebuah pasantren salaf di daerah Jatisari dibawah pimpinan Kiai Hasan. Baru setelah itu keluar daerah yakni ke sebuah pasantren di Jawa Tengah,tepatnya di Kabupaten Tegal yang diasuh oleh Kiai Ubaidah.

Setelah berbagai ilmu keagamaan dikuasai, maka selanjutnya ia pindah ke pasantren yang sangat kondang di Jawa Timur, yakni Pasantren Tebuireng, Jombang di bawah asuhan Hadratusyekh Hasyim Asy'ari, tokoh kharismatik yang kemudian menjadi pendiri NU. Pasantren Tebuireng itu menambah kematangan kepribadian Kiai Abbas, sebab di pasantren itu ia bertemu dengan para santri lain dan kiai yang terpandang seperti KH Abdul Wahab Chasbullah (tokoh dan sekaligus arsitek berdirinya NU) dan KH Abdul Manaf turut mendirikan pasantren Lirboyo, kediri Jawa Timur.

Walaupun keilmuannya sudah cukup tinggi, namun ia seorang santri yang gigih, karena itu tetap berniat memperdalam keilmuannya dengan belajar ke Makkah al-Mukarramah. Beruntunglah ia belajar ke sana, sebab saat itu di sana masih ada ulama Jawa terkenal tempat berguru, yaitu KH Machfudz Termas (asal Pacitan, Jawa Timur) yang karya-karya (kitab kuning) -nya termasyhur itu. Di Makkah, ia kembali bersama-sama dengan KH Bakir Yogyakarta, KH Abdillah Surabaya dan KH Wahab Chasbullah Jombang. Sebagai santri yang sudah matang, maka di waktu senggang Kiai Abbas ditugasi untuk mengajar pada para mukminin (orang-orang Indonesia yang tertinggal di Makkah). Santrinya antara, KH Cholil Balerante, Palimanan, KH Sulaiman Babakan, Ciwaringin dan santri-santri lainnya.

MEMIMPIN PASANTREN BUNTET

Dengan bermodal ilmu pengetahuan yang diperoleh dari berbagai pasantren di Jawa, kemudian di permatang lagi dengan keilmuan yang dipelajari dari Makkah, serta upayanaya mengikuti perkembangan pemikiran Islam yang terjadi di Timur Tengah pada umumnya, maka mulailah Kiai Abbas memegang tampuk pimpinan Pasantren Buntet Waruisan dari nenek moyangnya itu dengan penuh kesungguhan. Dengan modal keilmuan yang memadai itu membuat daya tarik pasantren Buntet semakin tinggi.

Sebagai seorang kiai muda yang energik ia mengajarkan berbagai khazanah kitab kuning, namun tidak lupa memperkaya dengan ilmu keislaman modern yang mulai berkembang saat itu. Maka kitab-karya ulama Mesir seperti tafsir Tontowi Jauhari yang banyak mengupas masalah ilmu pengetahuan itu mulai diperkenalkan pada para santri. Demikian juga tafsir Fahrurrozi yang bernuansa filosofis itu juga diajarkan. Dengan adanya pengetahuan yang luas itu pengajaran ushul fikih mencapai kemajuan yang sangat pesat, sehingga pemikiran fiqih para alumni Buntet sejak dulu sudah sangat maju. Sebagaimana umumnya pasantren fiqih memang merupakan kajian yang sangat diprioritaskan, sebab ilmu ini menyangkut kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dengan sikapnya itu maka nama Kiai Abbas dikenal keseluruh Jawa, sebagai seorang ulama yang alim dan berpemikiran progresif. Namun demikian ia tetap rendah hati pada para santrinya, misalnya ketika ditanya sesuai yang tidak menguasai, atau ada santri yang minta diajari kitab yang belum pernah dikajianya ulang, maka Kiai Abbas terus terang mengatakan pada santrinya bahwa ia belum menguasasi kitab tersebut, sehingga perlu waktu untuk menelaahnya kembali.

Walaupun namanya sudah terkenal di-seantero pulau Jawa, baik karena kesaktiannya maupun karena kealimannya, tetapi Kiai Abbas tetap hidup sederhana. Di langgar yang beratapkan genteng itu, ada dua kamar dan ruang terbuka cukup lebar dengan hamparan tikar yang terbuat dari pandan. Di ruang terbuka inilah Kiai Abbas menerima tamu tak henti-hentinya. Setiap usai shalat Dhuhur atau Ashar, sebuah langgar yang berada di pasantren Buntet, Cirebon itu selalu didesaki para tamu. Mereka berdatangan hampir dari seluruh pelosok daerah. Ada yang datang dari daerah sekitar Jawa Barat, Jawa Tengah bahkan juga ada yang dari Jawa Timur. Mereka bukan santri yang hendak menimba ilmu agama, melainkan inilah masyarakat yang hendak belajar ilmu kesaktian pada sang guru.

MELAWAN PENJAJAH BELANDA

Walaupun saat itu, Kiai Abbas sudah berumur sekitar 60 tahun, tetapi tubuhnya tetap gagah dan perkasa. Rambutnya yang lurus dan sebagian sudah memutih, selalu di tutupi peci putih yang dilengkapi sorban – seperti lazimnya para kiai. Dalam tradisi pasantren, selain dikenal dengan tradisi ilmu kitab kuning, juga di kenal dengan tradisi ilmu kanuragan atau ilmu bela diri, yang keduanya wajib dipelajari. Apalagi dalam menjalankan misi dakwah dan berjuang melawan penjahat dan penjajah. Kehadiran ilmu kanuragan menjadi sebuah keharusan.

Oleh karena itu ketika usianya mulai senja, sementara perjuangan kemerdekaan saat itu sedang menuju puncaknya, maka pengajaran ilmu kanuragan di rasa lebih mendesak untuk mencapai kemerdekaan.

Maka dengan berat hati terpaksa ia tinggalkan kegiatannya mengajar kitab-kitab kuning pada ribuan santrinya. Sebab yang menangani soal itu sudah diserahkan sepenuhnya pada kedua adik kandungnya, KH Anas dan KH Akyas. Sementara Kiai Abbas sendiri, setelah memasuki masa senjanya, lebih banyak memusatkan perhatian pada kegiatan dakwah di masyarakat dan mengajar ilmu-ilmu kesaktian atau ilmu beladiri, sebagai bekal masyarakat untuk melawan penjajah.Tampaknya ia mewarisi darah perjuangan dari kakeknya yaitu mbah Qoyyim, yang rela meninggalkan istana Cirebon karena menolak kehadiran Belanda. Dan kini darah perjuangan tersebut sudah merasuk ke cucu-cucunya. Karena itu Kiai Abbas mulai merintas perlawanan, dengan mengajarkan berbagai ilmu kesaktian pada masyarakat.

Tentu saja yang berguru pada Kiai Abbas bukan orang sembarangan, atau pesilat pemula, melainkan para pendekar yang ingin meningkatkan ilmunya. Maka begitu kedatangan tamu ia sudah bisa mengukur seberapa tinggi kesaktian mereka, karena itu Kiai Abbas menerima tamu tertentu langsung di bawa masuk ke kamar pribadinya. Dalam kamar mereka langsung di coba kemampuannya dengan melakukan duel, sehingga membuat suasana gaduh. Baru setelah di uji kemampuannya sang kiai meng-ijazahi berbagai amalan yang diperlukan, sehingga kesaktian dan kekebalan mereka bertambah.

Dengan gerakan itu maka pasantren Buntet dijadikan sebagai markas pergerakan kaum Republik untuk melawan penjajahan. Mulai saat itu Pasantren Buntet saat itu menjadi basis perjuangan umat Islam melawan penjajah yang tergabung dalam barisan Hizbullah. Sebagaimana Sabilillah, Hizbullah juga merupakan kekuatan yang tanggung dan disegani musuh, kekuata itu diperoleh berkat latihan-latihan berat yang diperoleh dalam pendidikan PETA (Pembela Tanah Air) di Cibarusa semasa penjaajahan Jepang. Organisasi perjuangan umat Islam ini didirikan untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah. Anggotanya terdiri atas kaum tua militan. Organisasi ini di Pasantren Buntet, diketuai Abbas dan adiknya KH Anas, serta dibantu oleh ulama lain seperti KH Murtadlo, KH Soleh dan KH Mujahid.

Karena itu muncul tokoh Hizbullah di zaman pergerakan Nasional yang berasal dari Cirebon seperti KH Hasyim Anwar dan KH Abdullah Abbas putera Kiai Abbas. Ketika melakukan perang gerilya, tentara Hizbullah memusatkan pertahahannya di daerah Legok, kecamatan Cidahu, kabupaten Kuningan, dengan front di perbukitan Cimaneungteung yang terletak didaeah Waled Selatan membentang ke Bukit Cihirup Kecapantan Cipancur, Kuningan. Daerah tesebut terus dipertahankan sampai terjadinya Perundingan Renville yang kemudian Pemerintah RI beserta semua tentaranya hijrah ke Yogyakarta.

Selain mendirikan Hisbullah, pada saat itu di Buntet Pasantren juga dikenal adanya organisasi yang bernama Asybal. Inilah organisasi anak-anak yang berusia di bawah 17 tahun. Organisasi ini sengaja di bentuk oleh para sesepuh Buntet Pasantren sebagai pasukan pengintai atau mata-mata guna mengetahui gerakan musuh sekaligus juga sebagai penghubung dari daerah pertahanan sampai ke daerah front terdepan. Semasa perang kemerdekaan itu, banyak warga Buntet Pasantren yang gugur dalam pertempuran. Diantaranya adalah KH Mujahid, Kiai Akib, Mawardi, Abdul Djalil, Nawawi dan lain-lain.

Basis kekuatan laskar yang dibangun oleh Kiai Abbas itu kemudian menjadi pilar penting bagi tercetusnya revolusi November di Surabaya tahun 1946. Peristiwa itu terbukti setelah Kiai Hasyim Asy'ari mengeluarkan resolusi jihad pada 22 Oktober 1946, Bung Tomo segera datang berkonsultasi pada KH Hasyim Asy'ari guna minta restu dimulainya perlawanan terhadap tentara Inggris. Tetapi kiai Hasyim menyarankan agar perlawanan rakyat itu jangan dimulai terlebih dahulu – sebelum KH Abbas, sebagai Laskar andalannya datang ke Surabaya. Memang setelah itu laskar dari pasantren Buntet, di bawah pimpinan KH Abbas beserta adiknya KH Anas, mempunyai peran besar dalam perjuangan menentang tentara Inggris yang kemudian dikenal dengan peristiwa 10 Nopember 1945 itu. Atas restu Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari, ia terlibat langsung dalam pertempuran Surabaya tersebut. Selanjutnya kiai Abbas juga mengirimkan para pemuda yang tergabung dalam tentara Hizbullah ke berbagai daerah pertahanan untuk melawan penjajah yang hendak menguasai kembali republik ini, seperti ke Jakarta, Bekasi, Cianjur dan lain-lain.

Dialah santri yang mempunyai beberapa kelebihan, baik dalam bidang ilmu bela diri maupun ilmu kedigjayaan. Dan tidak jarang, KH Abbas diminta bantuan khusus yang berkaitan dengan keahliannya itu. Hubungan Kiai Hasyim dengan Kiai Abbas memang sudah lama terjalin, terlihat ketika pertama kali Kiai Hasyim Asy'ari mendirikan pesantrean Tebuireng, kiai sakti dari Cirebon itu banyak memberikan perlindungan, terutama saat di ganggu oleh para penjahat setempat, yang merasa terusik oleh kehadiran pasantren Tebuireng. Sekitar tahun 1900, KH Abbas datang dari Buntet bersama kakak kandungnya, KH Soleh Zamzam, Benda Kerep, KH Abdullah Pengurangan dan Kiai Syamsuri Wanatar. Berkat kehadiran mereka itu para penjahat yang dibeking oleh Belanda, penguasa pabrik gula Cukir itu tidak lagi mengganggu pasantren tebuireng, kapok tidak berani mengganggu lagi. Tradisi pasantren antara kanuragan, moralitas dan kitab kuning saling menopang, tanpa salah satunya yantg lain tidak berjalan, karena itu semua merupakan tradisi dalam totalitasnya.

BERJUANG HINGGA AKHIR HAYAT

Walaupun revolusi Nopember dimenangkan oleh laskar pasantren dengan penuh gemilang, tetapi hal itu tidak membuat mereka terlena, sebab Belanda dengan kelicikannya akan selalu mencari celah menikam republik ini. Karena itu Kiai Abbas selalu mengikuti perkembangan politik, baik di lapanagan maupun di meja perundingan. Sementara laskar masih terus disiagakan. Berbagai latihan terus di gelar, terutama bagi kalangan muda yang baru masuk kelaskaran. Berbagai daerah juga di buka simpul ke-laskaran yang siap menghadapi kembalinya penjajahan.

Di tengah gigihnya perlawanan rakyat terhadap penjajah, misi diplomasi juga dijalankan, semuanya itu tidak terlepas dari perhatian para ulama. Karena itu bepata kecewanya para pejuang, termasuk para ulama yang memimpin perang itu, ketika sikap para diplomat kita sangat lemah, banyak mengalah pada keinginan Belanda dalam Perjanjian Linggarjati tahun 1946 itu. Mendengar hail perjanjian itu Kiai Abbas sangat terpukul, merasa perjuangannya dikhianati, akhirnya jatuh sakit, yang kemudian mengakibatkan Kiai yang sangat disegani sebagai pemimpin gerilya itu wafat pada hari Ahad pada waktu subuh, 1 Rabiul Awal 1365 atau 1946 Masehi, kemudian dikuburkan di pemakaman Buntet Pasantren.

Hingga saat ini karakter perjuangan masih terus ditradisikan di Pasantren Buntet, pada masa represif Orde Baru pasantren ini dengan gigihnya mempertahankan independensinya dari tekanan rezim itu. Tetapi semuanya dijalankan dengan penuh keluwesan, sehingga orde baru juga tidak menghadapinya dengan frontal. Akibatnya pada masa ramainya gerakan reformasi pikiran dan pandangan Kiai Abdullah Abbas sangat diperhatikan oleh semua para penggerak reformasi, baik dari kalangan NU maupun komunitas lainnya. Itulah peran sosial keagamaan Pasantren Buntet yang dirintis mbah Qoyyim dilanjutkan oleh Kiai Abbas, kemudian diteruskan lagi oleh Kiai Abdullah Abbas menjadikan Buntet sebagai Pasantren perjuangan.

Sekian & Semoga Bermanfaat…
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar