Selasa, 19 April 2016

Cara Kyai Ubaid Mendidik Anak

KH Abdul Wahid Hasyim, dalam sebuah artikelnya, Abdullah Ubaid sebagai Pendidik pernah menceritakan, pada suatu hari datanglah bertamu salah seorang sahabatnya bernama KH Abdullah Ubaid dengan membawa seorang putranya berusia kira-kira 3 atau 4 tahun. Dihidangkanlah minuman teh 3 cangkir, satu untuk Kyai Ubaid, satu untuk putranya dan satu lagi untuk tuan rumah. Terjadilah pembicaraan antara Kyai Ubaid dan anaknya.
Sang anak meminta agar ayahnya mengambilkan minuman. Dijawab, agar ia mengambil sendiri karena minuman berada di dekatnya. Sang anak tetap meminta ayahnya yang mengambilkan karena takut kalau-kalau cangkir terjatuh lalu pecah. Kyai Ubaid, salah satu perintis berdirinya Gerakan Pemuda Ansor itu tetap menyuruhnya mengambil sendiri sambil membesarkan hatinya, bahwa kalau memegangnya hati-hati Insya Allah tidak akan jatuh. Sang anak masih menawar lagi agar diambilkan ayahnya karena tehnya panas. Kyai Ubaid menenangkan hatinya agar bersabar beberapa saat karena teh akan dingin dengan sendirinya. Selama pembicaraan antara Kyai Ubaid dengan puteranya, Kyai Wahid hanya berdiam diri, tidak ikut campur tangan.
Baca juga : KH Sahal Mahfudh
Kyai Wahid dan tamunya saling melepaskan senyumnya setelah dilihat bahwa akhirnya sang anak bisa minum sendiri tanpa bantuan orang lain. Kedua-duanya puas dengan hasil pendidikan kilat ini, dan tak kurang-kurang puasnya adalah sang anak sendiri yang ternyata dengan amat mudahnya bisa menghilangkan rasa hausnya dengan kemampuan sendiri.
Dari sekelumit peristiwa sederhana ini Kyai Wahid, dalam artikel yang termuat dalam Sejarah Hidup KHA Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar tersebut menilai Kyai Ubaid sebagai sebuah contoh dari seorang ayah yang pandai mendidik puteranya. Sejak usia 3 atau 4 tahun puteranya sudah ditanamkan rasa percaya kepada diri sendiri dan mulai diajarkan tentang arti bersabar. Bersabar dalam arti tetap menjaga etiket seorang tamu yang kurang pantas menuangkan air teh di atas piring hanya karena ingin agar teh yang masih panas itu segera menjadi dingin.
Baca juga : KH Saifuddin Zuhri
KH Syaifuddin Zuhri, dalam Guruku Orang-Orang dari Pasantren, menilai bahwa melalui artikel tersebut Kyai Wahid bukan saja memandang Kyai Ubaid sebagai seorang pendidik tetapi sekaligus seorang pemimpin yang memberikan jalan keluar kepada puteranya dengan menyuruh sedikit bersabar, karena teh dengan sendirinya akan menjadi dingin dan mudah untuk di minum oleh anak-anak.
Ruchman Basori, dalam The Founding Father Pasantren Modern Indonesia; Jejak Langkah KHA Wahid Hasyim, menilai dari cerita di atas dapat diambil intisari yang penting, yang dapat dijadikan prinsip-prinsip dalam pendidikan yaitu:
1. Percaya kepada diri sendiri atau prinsip kemandirian;
2. Kesabaran;
3. Pendidikan adalah proses, tidak serta merta;
4. Keberanian;
5. Prinsip tanggung jawab dalam menjalankan tugas.
Lebih lanjut, juga masih dalam tulisan itu, Kyai Wahid menyampaikan hal-hal yang harus dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya yaitu:
1. Sejak kecil hendaknya anak-anak dilatih dan dibiasakan bekerja dengan tenaga dan kemampuannya sendiri sehingga akan tumbuh kepercayaan diri.
2. Sejak kecil dibiasakan tidur sendiri dipisahkan dari orang tua.
3. Apabila si anak sudah agak besar perlu dibuatkan kamar, tempat pakaian yang terpisah dengan saudara-saudaranya yang lain untuk melatih tanggung jawab, sehingga diharapkan ketika besar nanti dapat mengurus rumah tangganya dengan baik.
Demikian di antara metode mendidik anak sesuai dengan perkembangan jiwanya. Pendidikan yang baik bukan hanya bertumpu pada lembaga pendidikan, melainkan diawali dari pendidikan yang baik di dalam keluarga dengan orangtua sebagai pendidiknya.
*********************
Sekilas mengenai Profil Almarhum KH ABDULLAH UBAID
Nama :
Lahir :
4 Jumadil Akhir 1318 H/1899 M
Wafat :
20 Jumadil Akhir 1357 H/8 Agustus 1938 M
http://www.nu.or.id/post/read/60052/ayo-mondok-beberapa-alasan-pentingnya-belajar-di-pesantren
Pendidikan :
- Madrasah al-Chairiyah, Ampel;
- Pasantren Pasuruan;
- Pasantren Tebuireng, Jombang.
Pengabdian :
- Guru Madrasah Nahdlatul Wathan
- Guru Madrasah al-Chairiyah;
- Pendiri Syubhanul Wathan;
- Pendiri BANO (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama), cikal bakal GP Ansor;
- Di kenal sebagai mubaligh.
Baca juga : KH Ruhiat Cipasung
Allaahummaghfir lahu, warhamhu, wa afihi wa'fu anhu, wayu'la darojatihi fil jannah, wa aada alaina min barokatihi wasqina min mudamihi wanfa’na bi ulumihi wa madadihi.. Lahul Fatihah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar